Rabu, 17 September 2025

Memak(n)ai Baju Kesadaran Nasional

“Ingat ya, Bapak dan Ibu sekalian,besok tanggal 17, Hari kesadaran Nasional. Mari memakai baju seragam KORPRI.” Demikan bunyi chat seorang rekan kerja saya, di aplikasi WAG sekolah tempat saya bertugas. 

Menjadi pegawai negeri bukan hanya sekadar status pekerjaan, melainkan sebuah amanah yang melekat erat dengan tanggung jawab besar. Pegawai negeri sering disebut sebagai ujung tombak pelayanan publik karena keberadaannya bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Dalam setiap tugas yang diemban, pegawai negeri dituntut untuk menunjukkan sikap disiplin, profesional, dan penuh kesadaran. Sikap inilah yang bisa diibaratkan sebagai "baju kesadaran", pakaian tak kasatmata yang harus selalu dikenakan dalam menjalankan tugas negara.

Kesadaran ini tidak lahir begitu saja. Ia merupakan buah dari pemahaman mendalam bahwa pekerjaan yang dilakukan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan banyak orang. Pegawai negeri, mulai dari tingkatan paling rendah hingga paling tinggi, harus senantiasa menyadari bahwa setiap langkah kerja yang dilakukan membawa dampak nyata bagi masyarakat. Seorang guru negeri yang telaten mengajar akan memengaruhi masa depan anak-anak bangsa. Seorang tenaga kesehatan negeri yang disiplin akan menyelamatkan banyak nyawa. Begitu pula pegawai administrasi, aparat keamanan, maupun pegawai di instansi lain—semua memegang peran vital dalam melancarkan roda pemerintahan.

Namun, dalam menuntut disiplin yang tinggi kepada pegawai negeri, pemerintah sebagai pemberi mandat juga tidak boleh menyepelekan hak-hak yang melekat pada diri mereka. Gaji dan tunjangan bukanlah semata-mata bentuk balas jasa, melainkan instrumen penting untuk mendukung profesionalitas dan kinerja yang optimal. Seorang pegawai yang sejahtera secara finansial akan lebih mudah berkonsentrasi pada pekerjaannya, tidak terdorong mencari jalan lain yang bisa menjerumuskan pada penyimpangan. Oleh karena itu, keseimbangan antara kewajiban dan hak harus dijaga dengan adil.

Sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari, sering terjadi ketimpangan. Pegawai negeri dituntut hadir tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bahkan diminta berkontribusi lebih di luar jam kerja. Akan tetapi, gaji yang diterima kerap dianggap tidak sepadan dengan beban tugas. Tunjangan yang dijanjikan kadang terlambat, atau besarnya tidak sesuai dengan standar kebutuhan hidup layak. Situasi seperti ini bisa memunculkan rasa kecewa, bahkan menurunkan motivasi. Padahal, menjaga motivasi pegawai sama pentingnya dengan menegakkan disiplin kerja.

Memakai baju kesadaran berarti menempatkan diri dalam posisi seimbang antara hak dan kewajiban. Dari sisi pegawai negeri, kesadaran ini terwujud dalam kedisiplinan hadir tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, serta melayani masyarakat tanpa diskriminasi. Dari sisi pemerintah, kesadaran itu hadir dalam bentuk pemenuhan hak pegawai secara wajar, mulai dari gaji yang memadai, tunjangan yang mendukung, hingga jaminan kesejahteraan di hari tua. Hubungan yang harmonis antara kedua belah pihak akan melahirkan pelayanan publik yang berkualitas.

Selain itu, memakai baju kesadaran juga berarti memahami bahwa pekerjaan sebagai pegawai negeri adalah ladang pengabdian. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjadi pelayan masyarakat yang sah di bawah payung negara. Maka, ketika kesempatan itu datang, sudah semestinya dijalankan dengan sepenuh hati. Disiplin bukan lagi sekadar kewajiban yang dipaksakan, tetapi menjadi kebutuhan untuk menjaga kehormatan diri dan lembaga tempat bekerja.

Kesadaran ini pun harus diwarnai dengan kejujuran dan integritas. Baju kesadaran tidak hanya menuntut disiplin hadir dan bekerja, tetapi juga menolak segala bentuk penyalahgunaan wewenang. Godaan korupsi, kolusi, atau gratifikasi sering kali muncul di tengah jalan. Pegawai negeri yang benar-benar memakai baju kesadaran akan mampu berkata tidak terhadap hal-hal yang merusak integritas, karena ia sadar bahwa pengkhianatan terhadap amanah berarti mengkhianati masyarakat dan negara.

Lebih jauh, kesadaran yang dimaksud tidak berhenti pada ranah individu, tetapi juga kolektif. Pegawai negeri bekerja dalam sistem birokrasi yang saling terkait. Jika satu bagian bekerja tanpa kesadaran, maka rantai pelayanan publik akan terganggu. Oleh sebab itu, budaya disiplin dan profesionalitas harus ditanamkan bersama. Pemerintah perlu menyediakan sistem yang transparan, sederhana, dan tidak berbelit-belit, agar pegawai dapat bekerja lebih efektif.

Dalam konteks ini, gaji dan tunjangan kembali memegang peran sentral. Kesejahteraan yang terjamin akan mendorong pegawai untuk bekerja lebih tenang, lebih ikhlas, dan lebih berorientasi pada pelayanan. Kenaikan gaji atau tunjangan seharusnya tidak dipandang sebagai beban negara, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun pemerintahan yang bersih, efektif, dan dicintai rakyat. Seorang pegawai negeri yang merasa dihargai akan bekerja dengan penuh dedikasi, bahkan rela memberikan yang terbaik melebihi panggilan tugas.

Pada akhirnya, memakai baju kesadaran adalah wujud komitmen bersama. Pemerintah, sebagai pengelola kebijakan, dan pegawai negeri, sebagai pelaksana di lapangan, harus berjalan beriringan. Disiplin, profesionalitas, integritas, dan kesejahteraan adalah empat pilar yang harus dijaga agar pelayanan publik benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Seorang pegawai negeri yang bekerja dengan penuh kesadaran akan menghadirkan wajah negara yang ramah dan dipercaya rakyatnya. Sebaliknya, jika pegawai bekerja tanpa kesadaran, sekadar menggugurkan kewajiban, maka pelayanan publik akan terasa hambar, bahkan memunculkan ketidakpuasan di tengah masyarakat.

Maka, mari kita kenakan baju kesadaran itu setiap hari. Baju yang tidak terlihat mata, tetapi akan terpancar dalam sikap, perilaku, dan hasil kerja. Dengan kesadaran, seorang pegawai negeri tidak hanya menjalankan rutinitas, tetapi juga menunaikan ibadah pengabdian kepada bangsa dan negara. Dan dengan kesadaran pula, pemerintah tidak sekadar menuntut, tetapi juga memberikan penghargaan yang layak kepada para pegawai. Jika keduanya berjalan selaras, maka pelayanan publik di negeri ini akan semakin bermartabat, dan cita-cita mewujudkan kesejahteraan rakyat akan semakin dekat untuk diraih.


Selasa, 15 Juli 2025

Menagih Seragam Janji

Pesta demokrasi telah berlalu, uforia kemenangan sudah dirayakan. Tapi, realisasi janji kampanye jangan dilupakan oleh pemimpin terpilih. 

Satu di antara janji manis itu adalah seragam sekolah bagi murid/siswa jenjang pendidikan dasar. Berhubung tingkat SMA/SMK sudah ditangani oleh pemerintah provinsi. 

Sudah menjadi cerita basi, jika penyaluran seragam sekolah gratis dilakukan oleh pemerintah menjelang semeseter kedua tahun pelajaran berjalan, bahkan menjelang penaikan kelas. 

Padahal jika pemerintah memerhatikan dan ingin merealisasikan janji manisnya secara serius dan memiliki nilai plus dibanding pemerintahan sebelumnya, seharusnya penyaluran seragam gratis ini dilakukan di awal tahun ajaran baru. 

Jika bukan di hari pertama bisa pada saat pelaksanaan MPLS berlangsung. Apakah ini realistis? Ya, ini realistis. Karena masa penerimaan murid baru sudah lebih awal dilakukan dan diselesaikan setiap sekolah, jenjang SD hingga SMP. 

Dengan pedoman Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) serangam dari pusat. Tentu kepala sekolah sudah menyampaikan ke dinas pendidikan setempat perihal SPMB tersebut. Jumlah siswa yang diterima oleh setiap sekolah. 

Bahkan dalam formulir isian, sudah dicantumkan ukuran berat dan tinggi badan setiap anak. Bahkan tahun-tahun sebelumnya, ukuran anak tidak menjadi patokan utama, dirata-ratakan saja. Sehingga setiap anak menerima ukuran pakaian yang seragam. 

Idealnya, para orang tua/wali murid baru setiap jenjang pendidikan dasar, tidak perlu merogoh saku dan menguras isi dompetnya untuk membeli seragam sekolah, yang harganya tidak bisa dianggap murah. Cukup menunggu pakaian yang dijanjikan pemerintah terpilih merealisasikan janjinya. 

Pihak sekolah pun, tak perlu mempermasalahkan jika ada murid baru yang memakai pakaian bukan seragam sekolah. Memang penulis belum menemukan kasus adanya orang tua yang tidak mau membelikan anaknya seragam sekolah. dan penulis bukan menafikan kewajiban orang tua dalam menyiapkan perlengkapan anak-anaknya dalam menempuh pendidikan.

Tetapi, ini untuk mengingatkan pemerintah, bahwa mereka memiliki janji yang harus segera ditunaikan. Tidak dengan dalih ini dan itu. Toh pada saat kampanye, penyampaian visi misi, hanya dibahasakan secara umum, tidak eksplisit persyaratan ataupun estimasi waktu penyalurannya. 

Jika ada masyarakat yang bertanya dan menggugatnya, itu sesuatu yang lumrah dan pemerintah harus terbuka dan berlapang dada jika mendapat pertanyaan kritis dari masyarakatnya.

Minggu, 26 Desember 2021

Saya Bertanya, Sekaligus Klarifikasi

Tiga hari yang lalu, seorang kerabat bertandang ke kediaman kami. Katanya, baru saja menghadiri pertemuan di kantor lurah, terkait penerima bansos KKS/PPKM. Bantuan sosial ini masih sekaitan dengan upaya pemerintah dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana pandemi Covid-19. Bansos kali ini dalam bentuk sembako seharga 300ribu setiap bulannya, dalam jangka waktu 6 bulan tahun anggaran 2021.

Sehari berselang, saya berjumpa dengan seorang teman, di masjid tempat kami menunaikan salat Jum'at. Sebelum acara Jum'at dimulai, kami sempat berbicara beberapa hal sekaitan dengan kepengurusan di masjid. Termasuk, menyinggung tentang bantuan sosial pemerintah, yang disalurkan sehari sebelumnya. 

Menurutnya, data penerima bantuan tersebut terasa mengganjal. Karena menurutnya, beberapa orang yang menerima atau lebih tepatnya tercantum namanya, masih tergolong orang yang mampu dengan beberapa kriteria. Meskipun itu secara pandangan kasat mata yang masih subjektif.

Tapi, yang membuat saya kaget sekaligus tergelitik, adalah saat dia menyebutkan nama saya tercantum sebagai penerima bansos tersebut. 

Padahal, saya sendiri tidak tahu menahu tentang bansos tersebut, siapa saja penerimanya. Karena meskipun tempat mukim saya berjarak sangat dekat dengan kantor lurah, saya tak pernah mendapatkan kabar berita tentang hal tersebut, termasuk menerima undangan pertemuan (seperti undangan yang didapatkan oleh kerabat kami, yang saya ceritakan di atas).

Setelah menunaikan salat Jum'at, saya sebenarnya ingin mempertanyakan hal tersebut kepada salah seorang relawan yang bekerja pada salah satu tim kerelawanan sosial. Tapi, kesempatan itu terlewat, saat dia kelihatannya terburu-buru meninggalkan masjid karena dipanggil oleh pak Lurah, yang ikut menunaikan salat Jum'at di masjid kami tersebut.

Saya pun berencana menghubungi relawan sosial yang masih kerabat saya via media sosial. Tapi, karena beberapa aktifitas. Hal itu sempat terpending dan mengendap.

Sehari setelah hari Jum'at, saya dan istri mengikuti pertemuan di sebuah hajatan pegiat literasi. Tepatnya, launching buku. Di tengah berlangsungnya acara, istri saya yang duduk di samping saya, memperlihatkan chat seorang temannya yang juga tetangga kami. 

Dalam chatnya tersebut, dia memperlihatkan daftar nama-nama penerima bansos khusus untuk di kampung kami. Dalam daftar tersebut, tercantum identitas saya, yang benar-benar itu adalah saya. Nomor induk kependudukan, nama asli, tempat lahir, serta nama ibu kandung. Secara detail saya menmperhatikan hal tersebut. Karena dalam beberapa kasus, meskipun memiliki nama yang sama, tapi NIK berbeda, maka itu bisa dipastikan orang yang berbeda. Kecuali, dia memiliki identitas ganda yang sengaja ataupun tidak sengaja digandakan. Hanya saja, saya ragu, jika saat ini, terkoneksinya data kependudukan dengan instansi-instansi pemerintah  antara yang satu dengan yang lainnya masih ada yang memiliki data yang ganda. 

Setelah memperlihatkan isi chat tersebut. Saya pun menyapa seorang teman yang duduk bersebelahan dengan saya di acara launching buku tersebut. Selain sebagai relawan pegiat literasi di kampungnya, dia pun seorang relawan sosial di sebuah lembaga yang sama dengan teman sekaligus kerabat saya yang di atas.

Dari jawaban singkat yang saya tangkap, bahwa para relawan sosial ini, bingung dengan data penerima bantuan yang saya pertanyakan tersebut, karena menurutnya, di kampungnya pun kekisruhan yang sama dan data yang datang, tidak diketahui berasal dari mana? Data basenya sejak tahun kapan.

Selanjutnya, saya menghubungi kerabat saya yang juga relawan sosial, via chat mempertanyakan perihal tercantumnya nama saya di penerima bantuan. Jawaban yag diberikan tetap sama, bahwa dirinya bingung akan data tersebut. Apalagi sekaitan dengan status saya sebagai Pegawai Negeri, otomatis tidak bisa mendapatkan bantuan sosial, meskipun saya berniat mengalihkannya ke orang lain yang lebih berhak menerimanya. Tapi, konsekuensinya, adalah nama saya yang tetap tercantum sebagai penerima, dan itu terbilang sebuah temuan(pelanggaran). 

Amma ba'du, saya diarahkan untuk menghubungi pihak yang menangani bantuan tersebut, yaitu TKSK, saya ingin memperjelas, sekaitan dengan pengembalian bansos tersebut. Apakah saya yang harus mengembalikannya secara langsung ke kas negara, ataukah pihak penyalur saja. Karena, saya khawatir, jika dikemudian hari, saya dimintai keterangan terkait penerima bansos tersebut, tercantumnya nama saya, dan mekanisme yang saya tempuh dengan pengembalian dana bansos yang mengatasnamakan saya.

Setelah mendapatkan jawaban yang saya anggap memuaskan, saya pun merasa aman.

Namun, perbincangan berlanjut, setelah istri saya,membuat status di story' media sosialnya, mempertanyakan kasus atau kejanggalan yang saya alami tersebut.

Beragam tanggapan masuk dari beberapa temannya. Termasuk, yang menyarankan saya agar mempertanyakan ke pihak penyalur tentang kartu penerima. Apakah betul-betul sudah dikembalikan ke kas negara. Karena menurutnya, dia berkaca pada pengalaman dengan kasus yang hampir sama, kartu penerima bansos yang sudah tercetak karena tidak diambil oleh si empunya kartu, biasanya dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Digesek, diambil uangnya kemudian yang jadi sasaran adalah nama yang tercantum sebagai penerima bantuan, padahal si empunya nama sama sekali tidak mengetahuinya.

Tanggapan lain juga muncul, bahwa bansos yang mencantumkan nama saya sebagai penerima, memang bansos yang peruntukannya, bukan untuk kalangan orang miskin saja, tetapi orang kaya, Pegawai Negeri pun, jika terdampak bencana COVID-19, pun berhak menerima bantuan tersebut.

Saya yang tak mau menuai kontroversi-kontroversi tersebut, kemudian berselancar di dunia Maya, mencari tahu tentang  bansos KKS/PPKM-BPNT tersebut. Kategori penerimanya siapa saja. Panjang lebar penjelasan yang termaktub dalam ulasan yang sempat saya baca. Salah satunya adalah kategori penerima bansos tersebut adalah kategori miskin ekstrem dan tercatat di pusat data DKS (Data Kesejahteraan Sosial) kementerian sosial.

Saya pun penasaran dengan data kementerian sosial tersebut. Apakah betul nama saya tercantum di data tersebut atau tidak. Jika tercatat dalam DKS. dasar pencatatannya dari mana, dan kapanpendataan itu dilakukan danriterianya seperti apa? Kemudian, jika nama saya tidak tercantum dalam DKS, data yang beredar itu, diambil dari mana? Sehingga nama saya muncul secara tiba-tiba. 

Hanya saja, saat saya mengakses DKS Kementerian Sosial, pada laman:;https://dtks.kemensos.go.id/cek, hingga tulisan ini selesai saya buat, belum bisa saya akses.(tapputar-putarki, alias loading)

Kisruh tentang DKS ini, tidak terjadi untukali ini saja dan menuai kontroversi. Beberapa waktu yang lalu, khususnya awal-awal munculnya padeblug covid-19 ini, terlebih saat akan dibagikannya bansos yang bagi yang terdampak bencana ini, pun disorot. Bahkan beberapa kelompok masyarakat mendatangi kantor kelurahan mempertanyakan hal tersebut. Meskipun pada akhirnya, ditutup dengan cara damai, dijadikan bahan pelajaran untuk perbaikan di masa yang akan datang. Tanpa ada yang blunjuk tangan bahwa data yang dikeluarkan itu, berdasar dari ini...agar kelompok masyarakat bawah tidak saling diperbenturkan..kemudian pihak lain yang menuai hasilnya.

Jumat, 03 September 2021

Ikut Challenge, Elma Malewa Berdonasi 1000 Masker untuk Almamaternya

 

Melalui informasi media sosial, salah satu perusahan multinasional, Aice Indonesia, melaksanakan challenge untuk melakukan pembagian donasi masker kesehatan ke kelompok masyarakat yang direkomendasikan, dalam rangka pencegahan covid-19, yang masih mewabah.

Dalam challenge tersebut, peserta diminta untuk mengunggah video atau foto tentang deklarasi atau ajakan memakai masker. Para peserta diminta untuk membuat tagline tentang pentingnya memakai masker tersebut.

Adalah Elma Malewa, sapaan akrab dari pemilik nama lengkap Erma Suryanti, ditunjuk menjadi salah seorang pemenang oleh pihak penyelenggara, Aice Indonesia. Sehingga berhak mendonasikan 1000 buah masker kesehatan kepada kelompok masyarakat yang telah direkomendasikan sebelumnya.

Dalam unggahan instagramnya, Elma Malewa, telah merekomendasikan Ponpes K.H. Muhammad Dahlan, untuk menerima donasi tersebut.

"Awalnya saya akan merekomendasikan beberapa sekolah di kecamatan Tompobulu, tetapi, karena harus menunjuk satu kelompok masyarakat dalam 1 komunitas saja, maka, saya memilih ponpes tersebut," ungkapnya saat dimintai konfirmasi.

"Saya memilih ponpes K.H. Ahmad Dahlan, selain karena dekat lokasi tempat tinggal saya, juga tak lain merupakan almamater tempat saya dulu menimba ilmu," lanjutnya memberikan penjelasan.

Ponpes K.H. Ahmad Dahlan, merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ada di kelurahan Ereng-Ereng, dengan membina tiga tingkatan.

"Ya, jumlah penerima donasi di ponpes tersebut, lumayan banyak. Karena ada tingkatan sekolah yang dibina, selain pegawai dan tenaga pendidik ya tentu saja." Imbuh, ibu 3 orang putra ini.

Sementara itu, pihak ponpes, sangat terharu dan berterima kasih atas donasi yang yang telah diterima, pada hari Kamis, 02 September 2021

"Kami, mengucapkan terima kasih atas rekomendasi dan donasi dari salah seorang alumni kami," ujar ustadz Nawir, pimpos K.H. Ahmad Dahlan.

Setelah menerima donasi, dari jasa pengiriman paket, pihak pondok pesantren, langsung membagikan ke seluruh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.


Minggu, 08 Agustus 2021

Karti Sang Pembeda

 

Kini, rasa penasaran saya sudah terjawab, pada isi buku yang bersampul merah maron tersebut. Novelet yang mengambil latar masa kolonial Belanda, ditulis begitu sangat apik. Meski hanya sebuah novelet, tapi diceritakan dengan begitu lugas. 

Sebagaimana disebutkan, bahwa kehidupan sang tokoh terjadi setelah kehidupan max Havelaar atau Multatuli. Kemudian berakhir pada tahun 1879. Tepat saat Kartini lahir (hal. 1)

Pada tahun-tahun perjalanan kehidupan Karti, si tokoh utama, sedang berlangsung politik etis yang diterapkan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada bangsa-bangsa jajahannya.

Meski demikian, tidak semua orang dapat merasakan politik etis tersebut. Jelata yang telanjur menjadi budak, selamanya menjadi budak. Sementara bagi kaum priyayi, bangsawan, hanya kaum Adam saja yang bisa merasakan politik balas budi atas kebijakan ratu Wilhelmina itu. Sedangkan kaum hawa, seperti rakyat kebanyakan. Terutama yang masih mempertahankan adat budaya Jawa yang kental. Masih tabu jika perempuan berpendidikan tinggi. Dianggap melawat adat dan merusak tatanan yang sudah ada.

Setelah menginjak usia remaja, para putri bangsawan harus menjalani masa-masa dipingit. Tinggal di dalam kamar, hingga datang calon suami yang akan menjemput mereka untuk diperistri.

Demikian halnya yang berlaku pada Karti. Ketika usianya sudah menginjak usia 17 tahun, artinya, ia sudah memasuki masa untuk dipingit. Bahkan, masa itu telah dijalaninya sejsk usia 12 tahun.

Tapi, keinginannya untuk bebas berinteraksi seperti para pria, bersekolah hingga ke Nederland, membuatnya berontak. Di dalam kamarnya, ia selalu merasa gelisah, karena masa-masa itu telah menyiksa batinnya. 

Meskipun kata hatinya hanya bisa ia ungkapkan kepada kakak laki-lakinya serta  Everdine dan Van Edeen yang merupakan teman sekolahnya di ELS. Sementara sebangsanya kaum hawa, ia sama sekali tak mendapat dukungan. Hanya satu yang mendukungnya untuk keluar dari tatanan yang dianggap penjara emas itu. Ialah ibunya, ya ibu kandungnya. Yang hanya menjadi istri yang tak dianggap keberadaannya oleh suaminya, karena bukan dari keturunan bangsawan.

Novelet yang terdiri dari dua bagian ini, menceritakan sosok Karti ketika berada di Neraka Emas dan Neraka Besi. 

Neraka Emas sendiri merupakan istilah bagi kehidupan yang dijalani oleh Karti saat masih dalam pingitan ayahandanya. Sedangkan Neraka Besi, situasi yang dialami oleh Karti saat nekat melarikan diri dari rumahnya. Yang menjumpai dan mengalami situasi yang tidak jauh berbeda dengan yang dialaminya saat berada di Neraka Emas

Tokoh Karti dalam novelet ini diceritakan sebagai perempuan yang tangguh, pemberani dan tak mudah menyerah. Meskipun nyawa sebagai taruhannya. 

Hal tersebut dapat dilihat saat dia nekat melarikan diri, ketika malam persiapan acara pernikahan yang tak dikehendakinya dengan seorang bupati Rembang. Juga ketika bersembunyi di Batavia, menjadi buron ayahnya sendiri, ancaman dan gangguan-gangguan yang didapatkannya tak sedikit pun menyurutkan langkahnya, hingga pulang kembali ke rumahnya, menuruti nasihat Raden Mas Radityo, kakaknya.

Teror dan ancaman yang mengelilinginya tak membuatnya menyerah pada situasi, bahkan kehilangan seorang teman yang memercayainya selama ini sekalipun, tak menyurutkan langkahnya. Tujuannya hanya satu, memperoleh hak-hak yang sama dengan kaum perempuan di luar sana. Seperti sosok perempuan-perempuan yang menjadi inspiratornya, Pundita Ramabai, pejuang wanita dari India, Sri Ratu Wilhelmina, seorang perempuan kekasih Dewa, dan Mathilda Newport, Joan of Arch dari Liberia. (hal. 9)

Dia memang perempuan yang lembut, tapi tak membuatnya menjadi manja, tekadnya telah bulat, cita-citanya untuk memajukan kaum perempuan sudah diyakini sepenuhnya dalam hatinya. Seperti pesan terakhir ibunya sebelum mereka berpisah. "Perempuan Hindia Belanda harus menyadari kebodohannya." (hal. 30)

Dalam buku yang ditulis oleh Mayon Sutrisno pada 2001 ini, menggambarkan pula keadaan pribumi hidup di masa kolonial, menjadi sapi perah bagi bangsa penjajah di satu sisi, juga menjadi budak bagi tuan tanah  bagi para penguasa setempat, yang tunduk pada pemerintahan kolonial.

Memang novelet ini cukup ringkas untuk menceritakan seluruh kehidupan Karti, hingga ia menggapai cita-cita yang diperjuangkannya. Tapi, bisa menjadi referensi bagi generasi yang hidup di zaman ini, bahwa selain R.A. Kartini yang lazim didengar dan diperingati setiap tahunnya, ternyata ada perempuan lain yang juga bisa menjadi inspirasi.

Pertanyaan saya setelah membaca novelet ini, benarkah Karti, tokoh yang nyata? Atau ia hanya fiktif belaka? Seandainya ada buku biografinya yang lebih lengkap dari novelet ini. Sungguh saya penasaran ingin membacanya.


Judul: Hidupku Sesudah Max Havelar- Neraka Emas Neraka Besi

Penulis: Mayon Sutrisno

Penerbit: Progress, Jakarta

Tahun : 2001

Halaman: VI, 101 hal, 23 cm.

Kamis, 24 September 2020

07.05

 

Baru saja Sang surya

Beranjak dari peraduannya.

Merekah, naik sepenggalah.

 

Pak tani hendak melangkah

Turun ke sawah penuh bahagia

Bekerja dengan ikhlas

Demi penghidupan keluarga yang sejahtera.

Senin, 25 Mei 2020

Pappasang Battu ri Langiq ( Pesan dari Langit)

Battu ratema ri bulang makkutaknang ri bintoeng
Apa nakana, sabbarammako rong attayang, tenamo nasallo dudu, nata'lesang anjo koronaya.
Sibulang ruang bulang mami intu attahang. Namabaji’mo poeng katallassanga
Nasaba' jai dudumi anak bura'ne siurang anak baine, ero bunting rowa, na natundai nasaba anjo koronaya.
Pappala' doanna lebbami nilangere rikaraeng Allah ta'ala, karaeng iya ampa'niyaki siurang ampatangi anu mabajika mange ri sikuntu alanga siurang bonena.
Anjo sumpaeng tu rungkaya, angarru'mi, nasaba napinassaimi kalenna tena nakkulle bunting rowa. Napinawang sunna'na nabbita.
Ingka niak pappasanna karaengnu, punna lappasakmaki battu rianne koronaya,
Iyamiantu, pakajarremi tappa'nu siurang mallaknu mae rikaraeng malompoa,
Karaeng iya ampatangi tallasaka. 
Teaki nasaba pangasengang sikedde na ki lanjarimo karaeng, takkaluppa ri assala katallassanta, panniakkanta.
Tea dudumako ondangi lino, nasaba anjo lino tampa pammari-mariangji. Tampa ammonei bokong-bokong iya la nieranga mae ri tampa mannannunganga iyami antu akhera.
Teamaki sitongka-tongkai cera' nasaba' barang-barang, 
Teamaki situmpa-tumpa kanai nasaba' passisalang sikeddeja.
Teamaki pairi matai. Anjo dalle kattallassanta, massing niaja antu nipatang, lebba naatorangki karaenga, 
Iyaji bawang anjo katte nipakkigunai, akkala pikkiranta, batang kalenta, ati macinnongta, akkamala mabaji, iya akkigunaya mange ri kalengta siurang mange ri parangta rupa tau.
Anjo niaka pangasenganna, siurang ampagangi pammarentang, ajjulu kanai, ajjulu gaui, nanapamajui borik, pa'rasangang siurang masarakakna.
Nasabak anjo tuniaka pangassenganna siurang niaka ampaggangi pammarentanga, tena nattallasa mannanungang, tena na sallo amempo rate ri kadera mabaji'na. 
Nia antu se're wattu, na lani sambeang ri anak mudaya, tu rungkaya.
Ingka anjo tu rungkaya, parallu memangmi, nabokongi kalenna pangasengang, siurang kagassingang. Iya la anjaria sallang modala, punna iya tong isseng ammempo irate, na tena napassia-siai pammempoanna.
Ingka anjo tu rungka tenapa na abbunting, abbunting mako rong, ingka ammaripi anne koronaya.
Ka punna abbuntingko ri kamma-kammaya anne, tena antu nubunting rowa. Bunting ka sino-sinoangko, tena tau battu, pappala doangangko, anjari daeng bunting malabbiri, mabbarakka, tallasa'na. Na sibajiki,  sannang siurang bura'nenna na bainenna.
Appajjari ana', ana' nikarannuang, nikarimangi, ri sikuntu tau niaka ri tompokna linoa, siurang malaika pajagana langika. Labbi-labbipa iya, ri karaeng iya lebba ampajjariyai.
Dasi na dasi iyami anjo sallang lampagangi kabajikanga siurang singaraya, na salama ngaseng tauwwa ri tompokna anne linoa, sanggena ri allo ribokoanna karaeng Alla ta'ala.
Terjemahan:
Saya sudah datang mengunjungi bulan, bertanya kepada bintang-gemintang
Apa yang dikatakannya? Bersabarlah, sudah tidak lama lagi, korona sudah akan hilang, lenyap.
Sebulan atau dua bulan lagi, dia akan bertahan. Kehidupan akan kembali membaik.
Karena sudah banyak pemuda maupun pemudi, yang mau menikah dengan semarak, meriah. Tapi harus mengundurnya disebabkan oleh virus corona.
Doa permohonannya sudah didengar dan diterima oleh Allah Swt. Tuhan yang menciptakan dan pemilik seluruh kebaikan yang berlaku bagi seluruh alam berikut seluruh isinya.
Pemuda itu menangis tersedu. Karena sudah memfonis dirinya, bahwa dia tidak bisa menikah dengan meriah, mengikuti sunah Nabi Muhammad Saw.
Tetapi ada satu pesan Tuhanmu yang harus engkau ingat, jika korona sudah terlepas.
Yaitu, kuatkanlah iman dan taqwamu kepada Allah Azza wajalla, Tuhan sang pemilik kehidupan.
Jangan karena memiliki pengetahuan yang sedikit, seakan kita ingin menjadi Tuhan, lupa asal dan awal mula keberadaan kita darimana.
Janganlah terlalu mengejar dan berambisi terhadap dunia. Sebab dunia hanya tempat beristirahat. Tempat kita memperbanyak bekal yang akan dibawa ke tempat yang lebih kekal, yaitu akhirat.
Jangalah kita saling menumpahkan darah, hanya karena harta benda,
Janganlah kita saling mencaci, menghardik, hanya karena persoalan sepele.
Janganlah selalu merasa iri. Karena rezeki dalam kehidupan ini. Sudah ditentukan dan diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, yang Maha Tahu.
Yang terpenting bagi kita, adalah mendayagunakan akal fikiran, tenaga yang dimiliki oleh tubuh, hati  yang bersih, senantiasa berbuat kebajikan, yang berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun kepada sesama manusia.
Orang yang memiliki pengetahuan, dan yang menguasai permerintahan, harus memiliki prinsif ‘satu kata dengan perbuatan’. Membangun dan memajukan negeri dan seluruh rakyatnya.
Sebab yang memiliki pengetahuan dan penguasa, tidak akan abadi kehdupannya, tidak akan duduk lama dalam kursi kekuasaannya.
Akan ada waktunya, Mereka  akan tergantikan oleh para pemuda 
Tapi, para pemuda sejak dini seharusnya membekali dirinya dengan pengetahuan. Dan kesehatan. Yang akan menjadi modal baginya, jika sekiranya ia yang menjadi pewaris pemerintahan, maka dia tak akan menya-nyiakan kekuasaannya.
Para pemuda yang belum menikah, menikahlah dulu. Tapi, setelah korona berlalu.
Karena, jika engkau menikah, saat sekarang ini, engkau tak bisa menikah dengan ramai. Menikah dengan sunyi, senyap. Karena tamu undangan tidak akan datang, yang akan memberimu doa restu, menjadi sepasang penganting yang dimuliakan, penuh berkah dalam kehdupannya, saling menjaga dalam kebaikan, hidup tenteram dan bahagia natr kedua pasangan, suami istri tersebut.
Melahirkan anak keturunan. Anak yang dirindukan dan disayangi oleh seluruh umat manusia, dan malaikat penjaga langit. Terutama oleh Tuhan yang telah menciptakannya.
Mudah-mudahan, dai nanti yang akan menjadi sosok pemimpin yang baik nan bijak, selamat, sejahtera semaua penduduk bumi ini. Hingga kita tiba di hari kemudian. Hari pembalasan yang adil dengan seadil-adilnya adil, hari kita bisa bertemu dengan Allah secara langsung. Aamiin.

Jumat, 22 Mei 2020

Liga Pabbuka Ramadan


Virus Corona atau Covid 19, menjadi pembicaraan yang paling viral sejak beberapa bulan belakangan ini. Semua kalangan, semua golongan. Bahkan kelompok usia paling dini pun sudah tahu melafalkan virus korona dengan fasih. Buktinya, anak saya yang kini usianya 4 tahun lebih, kerap menyebut-nyebut virus korona jika membujuk ingin ikut ke Takalar, ke kabupaten tempat saya bertugas "mauma ikut de Abi ke Takalar, kalau virus (lafadznya pake huruf p) korona sudah berhenti," demikian ucapnya. Meski saya tahu, bahwa anak saya itu belum paham apa-apa tentang makhluk ini.

Jumat, 27 Maret 2020

Co(n)rona

Setelah diumumkan secara resmi oleh presiden Joko Widodo, bahwa sudah ada warga negara Indonesia yang terpapar virus corona atawa diistilahkan covid 19. Jumlah orang yang terpapar virus tersebut, kian hari kian bertambah dengan istilah kasus yang berbeda. Ada yang berstatus ODP( Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Dari sekian ratus pasien yang dinyatakan positif terjangkit. Beberapa diantaranya ada yang berhasil sembuh, namun lebih banyak diantaranya yang meninggal dunia.
Meningkatnya penderita virus pandemi ini dari hari ke hari, membuat pemerintah menerbitkan beberapa kebijakan demi mengatasi dan menanggulangi penyebaran virus yang konon berasal dari Wuhan, Tiongkok ini.

Senin, 20 Januari 2020

Belajar dari Hickhi


Namanya Naina Mathur, seorang sarjana Pendidikan. Memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Setelah menyelesaikan pendidikan magisternya di bidang sains, dia melamar menjadi tenaga pengajar, dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Tapi, tak satu pun sekolah yang mau menerimanya. Bahkan ada dua belas sekolah yang menolak untuk menerimanya menjadi guru.
Penolakan yang diberikan kepadanya sebenarnya bukan tanpa alasan. Naina, mengidap sebuah penyakit “cegukan” yang disebut “syndrom tourette” Dari hal tersebutlah, dia dianggap tidak akan sanggup menjadi pengajar. Pimpinan sekolah yang ditempatinya melamar pekerjaan, menyarankannya untuk mencari pekejaan yang lain. Bahkan ayahnya sendiri pun, tidak setuju bila ia menjadi guru.

Rabu, 01 Januari 2020

2020, Sambut Tahun Baru dengan Merdeka Belajar.

Bagi yang merayakan pergantian tahun baru, saya ucapkan selamat merayakan, selamat memasuki tahun baru 2020 dengan semangat yang lebih baik. Semoga energi kita tidak habis dalam semalam, hanya dengan berhura-hura. Melakukan aktifitas yang kurang bermanfaat demi menyambut pergantian tahun baru. Sementara detik, waktu setelahnya, kehidupan terus berjalan dan bergulir.  
Setelah melewati pergantian tahun, kita harus bangun dari siuman setelah menghabiskan waktu semalam suntuk dengan begadang. Ingat kata Bang Rhoma, begadang jangan begadang jika tiada gunanya. Meskipun saya sendiri mau protes sama vokalis Soneta Group tersebut, gegara dia ikut konser di malam tahun baru, banyak orang yang ikut-ikutan begadang. Jelas bagi si Raja Dangdut, manfaat dia kongser, demi pundi-pundi (kapitalisme) Sementara bagi penontonnya demi hasrat dan hiburan(hedonisme).

Selasa, 10 Desember 2019

Pada Pidato Mas Menteri


Banyak yang terpukau dengan pidato mendikbud dikti, Nadiem Makarim, beberapa waktu yang lalu, saat menyambut Hari Guru Nasional. Kemudian pidato itu dibacakan serentak sebagai pidato seragam, di setiap sekolah oleh para pembina upacara.
Takjub sekaligus terkesima. Karena pidatonya cukup singkat, hanya 2 halaman. Versi cetaknya, dan lebih kurang 2 menit versi vidio. Tidak banyak dibumbui oleh ungkapan-ungkapan retoris, inspiratif nan puitis, ya, sekadar untuk memberikan pujian sesaat terhadap para guru. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari ungkapan menteri termuda di jajaran kabinet presiden Jokowi jilid ke-2 ini.

Minggu, 24 November 2019

Sebelum Beranjak (Bagian 1)


Sebelum beranjak meninggalkan kamar 1102, hotel Same dan kota Makassar hari ini, kembali ke tempat aktifitas, seperti biasa. Saya ingin menyimpan cerita ini di dalam sebuah tulisan. Ya, sebelum ingatan itu beranjak.
Empat hari bersama dengan orang-orang yang penuh semangat, dan sangat inspiratif, menurut  saya. Remaja, muda-mudi, orang-orang tua, pelajar, mahasiswa,guru, dosen, pegiat literasi semuanya. Meskipun empat hari, sangat singkat untuk mengenal mereka secara lebih jauh. Tapi dari interaksi yang singkat itulah saya memiliki beberapa gambaran akan kehebatan-kehebatan mereka.

Jumat, 17 Mei 2019

Saya Mau Buku itu

Tahukah Anda bahwa 17 mei merupakan hari buku nasional? Ya, 17 Mei ditetapkan sebagai hari buku nasional, bertepatan dengan momentum peresmian gedung perpustakaan nasional, oleh menteri pendidikan saat itu, bapak Malik Fajar. Dengan adanya hari buku nasional ini diharapkan kecintaan masyarakat pada buku semakin meningkat. Dengan mencintai buku, masyarakat pun diharapkan gemar membaca, gemar menulis, atau lebih singkatnya budaya literasi kian meningkat.

Selasa, 26 Februari 2019

Demokrasi

Demokrasi wujud kemerdekaan sejati
sebab kita bebas menentukan pilihan sendiri
intimidasi bukan jamannya lagi,
apalagi harus digadai, dijual beli.

Selasa, 23 Oktober 2018

Radio-Radio Abba (Bagian 1)


Abbaku (ayah), dulu punya tiga koleksi radio, satu jenis radio karaoke, dua lainnya radio genggam, mirip handy talk. Radio karaoke ini, disimpan di dalam kamarnya, dinyalakan saat pagi, siang, sore dan malam. Tetapi tidak sepanjang waktu itu. Pagi hari dari jam setengah lima hingga jam 07.30. siang hari jam 12 hingga jam satu. Kadang pula dinyalakan sekitar jam 3 menjelang sore. Sore hari dari jam 5 hingga jam 6 menjelang magrib. Setelah magrib dinyalakan lagi. Hanya hingga jam 7 malam saja.
Waktu-waktu yang saya sebutkan itu, menjadi langganan pemutaran radio, karena memiliki siaran-siaran khusus. Misalnya berita di RRI Makassar, sandiwara radio, siaran kolompengcapir (hanya ada di zaman orba), ceramah dari dai sejuta umat, KH. Zainuddin, MZ, sesekali mendengarkan siaran musik hiburan. Program mendengarkan siaran radio ini, menjadi langganan, karena di rumah kami belum ada tv atau langganan koran.
Radio jenis karaoke ini, sebenarnya belakangan dibeli oleh Abba, sebelumnya ada radio model tempo dulu, yang belakang hari ditukar dengan radio karaokean ini. Meskipun nyaris fasilitas karaokeaannya tidak pernah terfungsikan. Micnya biasa terpakai, tapi di sekolah tempat abba menjadi pembina, sekaligus sekolah tempat saya belajar.
Belakang hari, abba membeli sebuah radio mini, radio genggam, menggunakan tenaga baterai, fungsinya bisa dibawa saat ke kebun, diputar saat ngasoh memetik kopi atau coklat, sambil ngerokok. Tapi bukan saya yang merokok, hanya abba.
Saat radio mini ini ada, siaran sandiwara radio, waktu itu, sudah berkurang. Padahal, sebelum adanya radio mini yang bisa dibawa-bawa, beberapa siaran sandiwara radio sering tayang, saat kami beradaktifitas di kebun. Ada yang tayang jam 9 pagi, ada pula yang jam 3 sore. Saya selalu menyayangkan bila ada satu seri yang terlewatkan. Beruntung jika sempat terulang penayangannya. Hanya, itu sangat jarang terjadi.
Karena ferforma radio mini ini kurang maksimal, suara dan penangkapan siarannya kadang tidak bagus, abba membeli sebuah radio handy, yang sedikit lebih besar, antenanya panjang dan suaranya cukup nyaring. Tapi radio mini yang pertama, tidak terbuang atau terabaikan.  Saya dan seorang kakak, sering saling berebut menggunakannya. Karena menggunakan tenaga baterai, maka setiap yang menggunakannya, harus punya jadwal tertentu, beli baterainya pun dengan berkongsi.
Saya biasanya menggunakannya, saat mendengarkan berita, itu pun berita olahraga saja, dan pertandingan sepakbola liga Indonesia, khususnya pertandingan PSM Makassar. Di luar itu, kakak saya yang memanfaatkannya.

Senin, 22 Oktober 2018

Hujan dan Kresek


Hujan masih mengguyur, sementara jam sudah menunjukkan jam 7.00. biasanya jika jadwal mengajar saya jam pertama, maka saya sudah meninggalkan rumah pada jam tersebut.
Saya pun mengundur keberangkatan sekira 10 menit. Saya mempersiapkan mantel agar tidak kuyup. Tetapi sebelum saya mengenakannya, terlebih dahulu saya periksa celananya. Sebab kemarin, saat saya pulang dari sekolah dan menerobos hujan. Celana yang saya gunakan tertembus air hujan hingga ke dalam.
Ternyata bagian belakang sudah ada yang berlubang, di celahnya itulah hujan masuk. Lalu saya mebgambil kantong plastik bekas, yang tergantung di dinding. Saya lubangi bagian bawahnya model celana dalam, sebagai pelapis bagian dalam celana mantel. Hal ini untuk mencegah rembesan air hujan lolos membasahi celana.

Senin, 07 Mei 2018

Pantun Pemilukada

Langit mendung tertutup awan
Hujan turun tengah hari
Banyak gambar bergelantungan
Menebar senyum mengumbar janji

Ke pasar malam membeli bakwan
Jangan lupa beli tahu isi
Banyak partai banyak pilihan
Semua suka menyebar ilusi

Senin, 08 Mei 2017

INSPIRASI DARI LITERACY AWARD 2017



Awal Inspirasi
“Assalamu alaikum wr. Wb.
Melalui SMS ini, kami sampaikan bahwa saudara lolos 25 besar ilteracy award by Baznas & Republika.Kami undang saudara untuk hadir pada pelatihan, penilaian program dan penganugerahan Literacy Award 2017 di Bogor pada 30 April -02 Mei 2017”.

Demikianlah pesan singkat yang dikirimkan oleh panitia pelaksana Literacy Award 2017. Pertanggal 10 April 2017 dan saya terima melalui ponsel sekira pukul tujuh malam.

Senin, 20 Maret 2017

BUYA HAMKA, AYAH YANG HEBAT



Judul                : Ayah... Kisah Buya Hamka
Penulis             : Irfan Hamka
Penerbit           : Republika
Tahun               : 2013
ISBN               : 978-602-8997-71-3
Halaman          : xxvii+321

Ayah adalah putera Syekh Abdul Karim,seorang ulama yang cukup terkenal di Sumatera. Kami biasa memanggil Syekh Abdul Karim dengan sebutan Innyiak Doktor. Ibunya bernama Shaffiah. Ayah merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Sebagai anak seorang ulama, beliau pun dicita-citakan oleh ayahnya menjadi seorang ulama. Untuk itu, selain bersekolah di Sekolah Desa, Innyiak Doktor memasukkan ayah ke sekolah pendidikan agama yaitu diniyah.